13 Jun 2011

Pria Senja Penggagas Rindu


           Aku mempertanyakan hidup sebagai bagian dari daftar panjang ketidaktahuanku. Aku mempertanyakan takdir sebagai upaya atas pembelaan terhadap kehidupanku. Dan aku mempertanyakan cinta sebagai sebuah romansa kehidupanku.
            Aku CINTA. Bukan menye-menye. Bukan cinta yang ditulis oleh ahlli per-twitter-an dengan imbuhan hashtag #gombalvulkanik atau #gombalmukiyo. Bukan juga cinta alayers yang mengebu-gebu, norak, kemudian perlahan memudar. Dilanda jemu yang merangkai bosan.
            Aku CINTA. Cuma itu! Apa butuh alasan? Tidak perlu! Ini impulsif. Spontan namun dalam.
            Akh, apa harus kuulang lagi kata-kata ”AKU JATUH CINTA”. Oh, aku menerawang. Cinta tidak punya definisi saklek seperti istilah-istilah asing dalam ilmu Biologi atau Ekonomi. Hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang memiliki hati dan rasa saling merapat bersama menuju harmoni.
            Aku lalu mengulanginya perlahan. Aku jatuh cinta...



Begitulah bait demi bait tulisan yang kubuat untuk merampungkan cerita pendek yang menjadi project-ku sekarang. Aku membacanya lagi. Menghapus beberapa deret kalimat yang mengganjal, kemudian menggantinya dengan frase yang pas. Begitu seterusnya sampai mataku terasa perih dan beler. Seharusnya tinggal satu halaman lagi dan cepen ini akan selesai. Dasarnya aku memang perfeksionis, sisa satu halaman saja butuh penyelesaian selama empat jam. Hanya untuk memastikan kalau cerita ini layak untuk dikirimkan ke penerbit. Ah, masih saja hampa karena belum sempurna.
            Niatnya ingin kuselesaikan saja sampai besok pagi. Namun ngantuk yang mengganjal dan pegal yang menyerang barisan tulang belakangku membuatku menyerah. Dengan sisa tenaga yang masih kumiliki, aku bergegas bangkit menuju pembaringan tanpa mematikan laptop. Kulirik jam mungil berbentuk koala di sisi kanan ranjangku. Dua belas lebih sepuluh. Aku merentangkan badan yang istilahnya ngulet agar sedikit rileks kemudian memejamkan mata. Tak berapa lama, aku tertidur.

♥♥♥

            Bangun pagi, tubuhku pegal-pegal., kepala agak pening, agaknya aku terserang ganguan kesehatan khas daerah tropis : biasa disebut orang Belanda dengan , verkouden, harafiahnya berarti ’menjadi dingin’, atau orang Indonesia sendiri biasa menyebut masuk angin, yang menjadi lucu kalau diterjemahkan ke bahasa Belanda ’wind binnengaan’, padahal formalnya influenza.
            Pasti gangguan kesehatanku ini disebabkan oleh seringnya melek malam alias begadang ditambah dengan pola makan yang tidak teratur, dan diperburuk pula oleh pikiran yang merusuhkan jiwa gara-gara deadline cerpen yang sedang kukerjakan.
            Selagi masih terbaring di ranjang, dan mata tebuka penuh belek aku teringat atau lebih tepatnya mengingat mimpiku semalam. Berangsur baru aku benar-benar ngeh kalau tadi malam aku bermimpi bertemu lelaki itu. Lelaki yang selama ini kupanggil dengan sebutan pria senja. Kenapa senja? Hmm...bukan karena umurnya yang sudah berada di level senja. Bukan itu! Karena aku adalah pengagum suasana saat senja dan dengan kesengajaan serta kesadaran tingkat dewa aku juga kagum pada lelaki itu, maka tidak salah kalau aku memanggilnya dengan sebutan PRIA SENJA.
            Lantas dimana aku menemui pria senja itu? Oh, ia temanku semasa sekolah menengah pertama dulu. Ia juga teman yang belakangan ini memadati notifikasi dan kotak masuk di akun facebook milikku dan tentu saja mimpiku.
            Rasanya,  di antara sekian banyak lelaki yang pernah aku kenal, lelaki yang kusebut pria senja inilah satu-satunya yang telah membuat hatiku benar-benar percaya akan saktinya cinta. Ia tidak seperti lelaki-lelaki yang lain. Baik menyangkut batin maupun lebih-lebih menyangkut lahir. Secara khusus, dari sudut lahiriah, dia memang tak bisa dibandingkan dengan lelaki yang sering kutemui di kampus.
Dalam imajinasiku, lelaki yang berseliweran bergaya alay itu ada dua jenis, dan dua-duanya menjijikan semua. Tipe pertama, lelaki berkepribadian mirip banteng atau bajul buntung. Lelaki yang seperti ini adalah tipe yang menggeram-geram mirip macan mencengkeram bangkai kijang. Sedangkan yang lainnya, adalah lelaki dengan tipe mirip monyet lagipula lemah. Lelaki yang macam beginilah yang biasanya hanya cengar-cengir, mudah meringik di hadapan wanita cantik. Mereka berani dan mau kehilangan apapun demi mendapatkan si wanita. Bahkan kalau perlu mereka akan merengek-rengek seperti pengemis.
Maka aku gumun, begitu tau ada lelaki yang seperti pria senjaku itu, lelaki dengan wajah rupawan yang sangat muda, berusia belum 25 tahun, yang aku sebut juga sebagai sosok dengan masalah ’pandangan hidup’ yang khas.
Yakin, aku benar-benar cinta ’pria senja’ku karena persoalan lahiriah yang khas itu. Aku akan ngotot mengatakan, bahwa sangat kekanak-kanakan mengira cinta bisa tumbuh tanpa kasad lahiriah. Pantun abad lalu yang terkenal dinyanyikan oleh orang Indonesia sebagai lagu rakyat, setidaknya telah memberi pedoman tentang pemikiranku itu.

Dari mana datangnya linta
dari sawah turun ke kali
Dari mana datangnya cinta
Dari mata turun ke hati

Lebih terang lagi ungkapan dalam peribahasa Jawa yang populer : Witing tresna jalaran kulina.
Aku tesenyum-senyum sendiri. Bayangan pria senja berkelebat lagi di mataku. Mata lelah dan dihinggapi lingkaran hitam membulat seperti panda. Mata yang tiba-tiba saja mencicil demi melihat display laptopku yang semalaman dipaksa untuk lembur.
            Sudah menjadi kebiasaan, kegiatan yang pertama kali kulakukan setelah bangun tidur- tentunya setelah terlebih dulu menunaikan kewajiban sembahyang- adalah mematut diri di depan laptop. Mengecek e-mail dari dosen atau sekedar menghapus spam, menjelajah twitter untuk menyapa followers sekaligus memantau timeline yang sudah berbaris rapi, dan ketiga, yang paling penting, membalas pesan dari pria senja di facebook. Eits, bukan sembarang pesan, tapi lebih kepada kata-kata ajaib yang kugadang-gadang sebagai ramuan cinta.
            Masih terkenang dalam ingatan, pertemuan virtual kami yang pertama. Disebut virtual karena kami memang tak penah benar-benar bertemu bertatap muka. Empat tahun hilang kontak setelah lulus SMP namun akhirnya dipertemukan lagi oleh facebook tepat tanggal 3 Juni 2009. Aku yang berinisiatif memintanya menjadi temanku atau istilah kerennya ’add as friend’.
            Sejak saat itu, kami sering mengirim umpan balik. Sampai akhirnya aku tahu hampir setiap hal yang melekat pada dirinya. Pun baru aku tahu, kalau rumahnya ternyata berdekatan dengan rumahku di kota asal kami. Tentu saja informasi itu tidak melulu didapat secara gamblang. Aku hanya perlu bersabar dan menggunakan trik-trik tertentu untuk memancingnya. Jangan tanya aku bagaimana! Yang pasti jangan pernah meremehkanku karena aku wanita dan tahu caranya. Lelaki seperti pria senjaku bukanlah tipe lelaki yang terburu-buru dan senang diburu. Justru kalau aku terlalu agresif, maka dia akan kabur secepat kijang berlari. Dengannya, aku belajar untuk bisa menempatkan diri pada setiap situasi percakapan. Seringnya, dia mengajakku berdiskusi serius tentang psikologi dan ketakutan atau lazimnya disebut phobia.

♥♥♥

Aku mengarahkan kursor menuju pojok kiri atas dekat tulisan facebook. Yang kutuju adalah messages yang sedari tadi berkelap-kelip. Masih setengah sadar, aku meng-klik dan membaca isi pesannya.

            Akiva Raka Prasetyo
05 February at 10.59 Report
           
            Heb jij tijd om mij te ontmoeten morgen avond bij de Coffe war Kemang?
            Kutunggu jam 7 malam.

Aih, apa yang kutemukan? Pria senja itu mengajakku bertemu besok malam di Coffee War! Pertemuan pertama sejak enam tahun yang lalu. Sumpah demi ibuku aku kaget banget! Sedemikian parahnya sampai aku melongo lantas  sontak membaca ulang pesan itu tadi. Antara sadar dan setengah mimpi, aku tepuk pipiku berkali-kali. Auw!! Aku mengaduh. Sakit! Dan ini bukan mimpi. Segera saja aku membalas pesan mengagetkan dari lelaki itu dengan imbuhan emoticon tanda setuju.
Seketika rasa pegal-pegal karena gangguan kesehatan sekitar verkouden disertai batuk-batuk kering, seakan bablas anginnya, dan aneh, aku merasa pulih.
♥♥♥

Udara malam Jakarta yang dingin. Angin yang menggigil di luar. Hening suasana dan gemuruh rasa di dada. Aku masih belum yakin apa benar dia yang mengundangku. Sudah kucoba untuk menghubunginya via telepon tapi tak ada sautan. Aku hanya dibiarkan mendengar suara operator yang membuatku sebal setengah mati. Tapi demi membungkam rasa penasaran, kuputuskan datang juga.
Kupandangi lamat-lamat tulisan yang terpajang di atas kafe itu. Coffee War. Dengan perasaan aneh, aku menjejakkan kaki dan berjalan ke dalam. Oh, dia sudah ada disana. Sedang melambaikan tangannya begitu aku terlihat thingak-thinguk mencarinya. Duduk di sisi pojok, aku dan dia, dilingkupi temaramnya warna terakota hasil pantulan lampu. Untuk pertama kalinya aku melihat wajah rupawannya. Tak banyak berubah selain tubuhnya yang bertambah jangkung dan besar serta kumis tipis yang mendesak muncul di bawah cuping hidungnya.
Kagok dan gugup. Kami bertukar cerita. Setelah suasana agak mencair. Mendadak ia menggenggam tanganku. Menatap mataku dan berkata pelan, ”Maukah kamu menjadi pilihanku?”
Aku menundukan kepala. Hanya sebentar.
”Tak perlu ditanya, apa kamu melihat keraguan di mataku? Sumpah demi ibuku, Akiva Raka Prasetyo, aku mencintaimu. Dan jawabannya, aku mau!”, kataku.
Kami berpandangan dan tersenyum sipu...
”Engkau menyesal Na...”, ujarnya tiba-tiba.
”Tanya dirimu saja...” Aku tersenyum...
”Aku merindukanmu sekian lama.... sungguh merindukanmu!”
Kami lalu bertatapan mesra dan penuh arti! Kami masih belia...., kami berdua.
Dalam pikiranku, sudah jelas terbayang kalimat apa yang akan kutambahkan pada akhir cerpenku yang tinggal satu halaman itu.

Hanya ada satu orang untuk tiap satu orang, itu namanya belahan jiwa.





Bekasi, 18 Mei 2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sila tinggalkan jejak di sini. Cuap-cuap asal gak mengandung SARA juga diperbolehkan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...